اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ
اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
Puji
syukur saya ucapkan kehadirat Allah Swt, dan terimakasih teman-teman atas izin pemakaian
nama tokoh didalamnya, sehingga CERPEN ini bisa mengikuti Event Nasional. CERPEN
ini disadur 70% dari kisah nyata (ada sebagian perubahan) dan ber-genre hampir sama dengan postingan
CERPEN saya sebelumnya pada blog ini. Selamat membaca.
KERAJAAN
HATI
Sraaaaaak........
Sekepal batu meluncur menembus dedaunan dikebun belakang asrama. Fahmi masih termenung, matanya
tajam menembus cahaya fajar, ototnya tegang, tubuhnya menunjukkan urat – urat
yang menyeruak keluar, terlihat bahwa Fahmi menahan segudang peluru kebencian
yang siap dilesatkan sewaktu – waktu.
Rupanya Fahmi belum bisa menerima
kenyataan yang menimpanya malam tadi. Ia tertangkap tangan oleh ustadz Irfan
(salah satu pembimbing pondok pesantren) sedang melakukan perbuatan yang
melanggar tata tertib. Ia keluar tanpa izin (kabur) dari asrama, entah mau kemana ia pergi. Baru
beberapa langkah kaki hendak menuju, “Ila ayna anta (mau kemana kamu- Arab)
?”. Tanya ustadz Irfan menghentikan langkah Fahmi. “Ee... ee.. “ belum
sempat Fahmi mengucap satu kata yang utuh, ustadz Irfan langsung menarik dan
mengajaknya kesalah satu ruangan. Ruangan kecil yang luasnya 3 x 3 meter yang
biasa digunakan untuk menyidang santri yang kedapatan melanggar tata
tertib pondok pesantren.
Setelah beberapa menit di
interogasi, Fahmi harus menerima konsekuensi dari perbuatannya. Ia
harus mengakui perbuatannya dan mengucap janji didepan semua santri/siswa pada
hari ini, sebelum bel masuk kelas berbunyi.
Teeeeeeettt....... suara bel tanda
upacara segera dimulai. Dengan rasa kesal yang masih melekat, Fahmi bergegas
kelapangan, dilihatnya beberapa guru dan ustadz pembimbing
(termasuk ustadz Irfan) sudah berbaris rapi dipinggir lapangan.
Upacara dimulai.
“kepada ananda Fahmi dipersilahkan
maju kedepan”. suara dari microphone terdengar
jelas oleh seluruh peserta upacara. Kesal, malu dan menyesal beradu
dalam batinnya, getaran hebat
disertai tetesan peluh menyerang tubuh Fahmi.
“saya berjanji untuk tidak melakukannya
lagi. Bilamana saya didapati mengulanginya, saya siap diberi sangsi yang lebih
berat, bahkan saya siap untuk dikeluarkan
dari sekolah dan pondok pesantren ini”. Begitulah kalimat terakhir yang
diucapkan Fahmi. Dengan menahan kesal dan malu, Fahmi mempercepat langkahnya kekelas, sekelilingnya
memperhatikan dengan pandangan sinis.
Pelajaran
pertama dimulai. Fahmi tidak lagi memperhatikan materi yang sedang dijelaskan oleh pak Kahfi, batinnya berkecamuk bagai perang dunia.
Bagaimana saya membalas dendam kepada ustadz Irfan ?
bagaimana ? kapan dan dimana ?, tidak henti - hentinya Fahmi membatin. Rupanya ia
sangat tidak terima dengan konsekuensi yang diberikan padanya, Fahmi terus
memikirkan strategi yang paling jitu
untuk membalas perbuatan ustadz Irfan yang dianggap sangat mempermalukan
dirinya itu.
Hingga tiba waktunya istirahat,
Fahmi enggan mengangkat kakinya keluar kelas, ia masih malu bertemu dengan orang - orang disekelilingnya, bahkan Ikbal
yang merupakan teman dekatnya tidak nampak sejak tadi pagi. Sepertinya Ikbal
turut merasakan malu dengan kejadian pagi tadi, kali ini Ikbal tidak bisa
menjadi tameng untuk Fahmi, karena Fahmi terbukti bersalah.
Pukul 21.30 WIB
Dengan
perlahan dan hati – hati Fahmi melangkahkan kakinya kearah kamar ustadz Irfan,
yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana membalas dendamnya kepada ustadz Irfan.
“Ahaaa...” , Fahmi mendapat ide, bagai
menemukan cahaya dalam kegelapan. “Sorban kesayangan ustadz Irfan.
Ya, jika ku ambil lalu kubuang atau aku bakar, pasti dia akan merasa sangat
sedih dan kesal karena barang kesayangannya hilang, dia juga akan merasa sangat
bersalah karena tidak bisa menjaga sorban hadiah dari orang tuanya dikala dia
masih duduk dibangku SMA dulu. Walaupun dia tidak merasakan malu seperti yang
aku rasakan sampai kini”.
Fahmi mempercepat langkahnya.
Sesaatnya
sampai didepan kamar, ia memperhatikan sekeliling, setelah dirasa aman ia masuk
dengan dorongan kebencian. Matanya menyisir seluruh sudut ruangan, tapi belum
menemukan sorban yang ia cari.
Prakk... Tak sengaja meja kecil yang
biasa dipakai ustadz Irfan untuk belajar dan mengaji tersenggol kakinya, lantas
saja buku – buku dan lembaran – lembaran yang tersusun diatasnya jatuh
berserakan. Dengan gerakan cepat ia berusaha menyusunnya kembali, menyisakan
satu lembaran yang terlempar agak jauh dari meja, Fahmi segera mengambilnya.
Fahmi terdiam. Tanpa sengaja ia
membaca tulisan dalam lembaran tersebut hingga kalimat terakhir yang isinya
membahas “Pemimpin yang Adil dan Amanah”. Tak terasa air matanya menetes,
semakin lama semakin deras, ia menangis sejadinya, ia
putar kembali ingatannya sejak malam senin kemarin, saat ia melakukan perbuatan
yang melanggar tata tertib pondok pesantren. Hatinya berbalik, kebenciannya
berubah menjadi penyesalan. Ia baru menyadari bahwa perbuatannya memanglah
suatu yang salah dan pantas mendapat konsekuensi itu, karena sejak pertama ia
mendaftar untuk mengecap pendidikan dipondok pesantren itu, ia dan orang tuanya
telah menyetujui peraturan dan konsekuensinya selama ia tercatat sebagai
siswa/santri. Fahmi ingat betul saat ia dan orang tuanya menandatangani
perjanjian tersebut diruang pendaftaran lantai dua. “Ustadz
Irfan amatlah tidak bersalah, beliau adalah pemimpin yang amanah, karena telah
melakukan sesuatu yang memang menjadi tugasnya”. Hatinya membenarkan.
Tangis
Fahmi semakin tak tertahan, terlebih ia sangatlah mengetahui bahwa para guru
dan ustadz pembimbing di lembaga itu adalah para pengabdi, mereka merelakan
dirinya berbakti untuk memberi dan mengamalkan ilmunya pada seluruh santri
tanpa dibayar sepeserpun.
Fahmi berlari secepat kilat
menyambar mencari ustadz Irfan. Dimasjid, ruang pembimbing, asrama putra, aula serta lapangan
sudah ia datangi, namun tak menemukan ustadz Irfan.
Fahmi menyerah, ia memutuskan untuk kembali keasrama sebelum jam 10
malam.
Fahmi ! Terdengar suara paruh baya
memanggil dengan nada rendah. Setelah menoleh ternyata ustadz Irfan ada
dibelakangnya. Sekejap mata Fahmi meraih tubuh
beliau dan memeluknya dengan sangat erat, sambil menangis terseguk – seguk
Fahmi menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya. “Maafkan saya ustadz.
Saya telah melakukan hal yang salah, saya berdosa. Saya mengharap ridhomu
ustadz.”
Tangis
penyesalan dan haru menyelimuti keduanya ditengah lapangan depan aula. “aku
telah memaafkanmu, semoga Allah menjadikan air mata ini sebagai saksi iman kita
kepadanya.”
TAMAT
E-MAIL : syukrillah.chunk146@gmail.com
IG :
@syukrillah_el_harits

Inspiratif sekali
BalasHapusAamiin ... moga bermanfaat
BalasHapusTerharu aku bang
BalasHapus