Jumat, 01 Februari 2019

CERPEN kisah nyata





اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
                 Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah Swt, dan terimakasih teman-teman atas izin pemakaian nama tokoh didalamnya, sehingga CERPEN ini bisa mengikuti Event Nasional. CERPEN ini disadur 70% dari kisah nyata (ada sebagian perubahan) dan ber-genre hampir sama dengan postingan CERPEN saya sebelumnya pada blog ini. Selamat membaca.






                                                          KERAJAAN HATI

Sraaaaaak........ Sekepal batu meluncur menembus dedaunan dikebun belakang asrama. Fahmi masih termenung, matanya tajam menembus cahaya fajar, ototnya tegang, tubuhnya menunjukkan urat – urat yang menyeruak keluar, terlihat bahwa Fahmi menahan segudang peluru kebencian yang siap dilesatkan sewaktu – waktu.

Rupanya Fahmi belum bisa menerima kenyataan yang menimpanya malam tadi. Ia tertangkap tangan oleh ustadz Irfan (salah satu pembimbing pondok pesantren) sedang melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib. Ia keluar tanpa izin (kabur) dari asrama, entah mau kemana ia pergi. Baru beberapa langkah kaki hendak menuju, “Ila ayna anta (mau kemana kamu- Arab) ?”. Tanya ustadz Irfan menghentikan langkah Fahmi. “Ee... ee.. “   belum sempat Fahmi mengucap satu kata yang utuh, ustadz Irfan langsung menarik dan mengajaknya kesalah satu ruangan. Ruangan kecil yang luasnya 3 x 3 meter yang biasa digunakan untuk menyidang santri yang kedapatan melanggar tata tertib pondok pesantren.

Setelah beberapa menit di interogasi, Fahmi harus menerima konsekuensi dari perbuatannya. Ia harus mengakui perbuatannya dan mengucap janji didepan semua santri/siswa pada hari ini, sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Teeeeeeettt....... suara bel tanda upacara segera dimulai. Dengan rasa kesal yang masih melekat, Fahmi bergegas kelapangan, dilihatnya beberapa guru dan ustadz pembimbing (termasuk ustadz Irfan) sudah berbaris rapi dipinggir lapangan.
Upacara dimulai.
“kepada ananda Fahmi dipersilahkan maju kedepan”. suara dari microphone terdengar jelas oleh seluruh peserta upacara. Kesal, malu dan menyesal beradu dalam batinnya, getaran hebat disertai tetesan peluh menyerang tubuh Fahmi.

“saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Bilamana saya didapati mengulanginya, saya siap diberi sangsi yang lebih berat, bahkan saya siap untuk dikeluarkan dari sekolah dan pondok pesantren ini”. Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Fahmi. Dengan menahan kesal dan malu, Fahmi mempercepat langkahnya kekelas, sekelilingnya memperhatikan dengan pandangan sinis.

Pelajaran pertama dimulai. Fahmi tidak lagi memperhatikan materi yang sedang dijelaskan oleh pak Kahfi, batinnya berkecamuk bagai perang dunia. Bagaimana saya membalas dendam kepada ustadz Irfan ? bagaimana ? kapan dan dimana ?, tidak henti - hentinya Fahmi membatin. Rupanya ia sangat tidak terima dengan konsekuensi yang diberikan padanya, Fahmi terus memikirkan strategi yang paling  jitu untuk membalas perbuatan ustadz Irfan yang dianggap sangat mempermalukan dirinya itu.
                                                                                                                     
Hingga tiba waktunya istirahat, Fahmi enggan mengangkat kakinya keluar kelas, ia masih malu bertemu dengan orang - orang disekelilingnya, bahkan Ikbal yang merupakan teman dekatnya tidak nampak sejak tadi pagi. Sepertinya Ikbal turut merasakan malu dengan kejadian pagi tadi, kali ini Ikbal tidak bisa menjadi tameng untuk Fahmi, karena Fahmi terbukti bersalah.

Pukul 21.30 WIB
Dengan perlahan dan hati – hati Fahmi melangkahkan kakinya kearah kamar ustadz Irfan, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana membalas dendamnya kepada ustadz Irfan.
 “Ahaaa...” , Fahmi mendapat ide, bagai menemukan cahaya dalam kegelapan. “Sorban kesayangan ustadz Irfan. Ya, jika ku ambil lalu kubuang atau aku bakar, pasti dia akan merasa sangat sedih dan kesal karena barang kesayangannya hilang, dia juga akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga sorban hadiah dari orang tuanya dikala dia masih duduk dibangku SMA dulu. Walaupun dia tidak merasakan malu seperti yang aku rasakan sampai kini”.

Fahmi mempercepat langkahnya.
Sesaatnya sampai didepan kamar, ia memperhatikan sekeliling, setelah dirasa aman ia masuk dengan dorongan kebencian. Matanya menyisir seluruh sudut ruangan, tapi belum menemukan sorban yang ia cari.
Prakk... Tak sengaja meja kecil yang biasa dipakai ustadz Irfan untuk belajar dan mengaji tersenggol kakinya, lantas saja buku – buku dan lembaran – lembaran yang tersusun diatasnya jatuh berserakan. Dengan gerakan cepat ia berusaha menyusunnya kembali, menyisakan satu lembaran yang terlempar agak jauh dari meja, Fahmi segera mengambilnya.

Fahmi terdiam. Tanpa sengaja ia membaca tulisan dalam lembaran tersebut hingga kalimat terakhir yang isinya membahas “Pemimpin yang Adil dan Amanah”. Tak terasa air matanya menetes, semakin lama semakin deras, ia menangis sejadinya, ia putar kembali ingatannya sejak malam senin kemarin, saat ia melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib pondok pesantren. Hatinya berbalik, kebenciannya berubah menjadi penyesalan. Ia baru menyadari bahwa perbuatannya memanglah suatu yang salah dan pantas mendapat konsekuensi itu, karena sejak pertama ia mendaftar untuk mengecap pendidikan dipondok pesantren itu, ia dan orang tuanya telah menyetujui peraturan dan konsekuensinya selama ia tercatat sebagai siswa/santri. Fahmi ingat betul saat ia dan orang tuanya menandatangani perjanjian tersebut diruang pendaftaran lantai dua. Ustadz Irfan amatlah tidak bersalah, beliau adalah pemimpin yang amanah, karena telah melakukan sesuatu yang memang menjadi tugasnya”. Hatinya membenarkan.

Tangis Fahmi semakin tak tertahan, terlebih ia sangatlah mengetahui bahwa para guru dan ustadz pembimbing di lembaga itu adalah para pengabdi, mereka merelakan dirinya berbakti untuk memberi dan mengamalkan ilmunya pada seluruh santri tanpa dibayar sepeserpun.
Fahmi berlari secepat kilat menyambar mencari ustadz Irfan. Dimasjid, ruang pembimbing, asrama putra, aula serta lapangan sudah ia datangi, namun tak menemukan ustadz Irfan.

Fahmi menyerah, ia memutuskan untuk kembali keasrama sebelum jam 10 malam.
Fahmi ! Terdengar suara paruh baya memanggil dengan nada rendah. Setelah menoleh ternyata ustadz Irfan ada dibelakangnya. Sekejap mata Fahmi meraih tubuh beliau dan memeluknya dengan sangat erat, sambil menangis terseguk – seguk Fahmi menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya. “Maafkan saya ustadz. Saya telah melakukan hal yang salah, saya berdosa. Saya mengharap ridhomu ustadz.”
Tangis penyesalan dan haru menyelimuti keduanya ditengah lapangan depan aula. “aku telah memaafkanmu, semoga Allah menjadikan air mata ini sebagai saksi iman kita kepadanya.”


TAMAT

E-MAIL          : syukrillah.chunk146@gmail.com
IG                    : @syukrillah_el_harits

3 komentar:

Musuh Abadi Manusia

Musuh Abadi Manusia Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam AS melalui firmannya : “Sesungguhnya aku hen...