Kamis, 26 September 2019

Untaian kalimat tak bermakna

GUMAM
Harits Syukrillah

Apa yang mesti ku lakukan ?
Ketika semesta enggan untuk menyapa
Dikala sekitar tak lagi menumbuhkan asa
Saat segenap ruang tak mampu lagi memberi rasa
Diam ?
Mungkin diamku tak lagi emas untuk saat ini
Memaki sekitar ?
Itu hanya akan membuatnya semakin enggan mendekat
Atau berlari dan meninggalkan ?
Huh... tapi aku tak mau disebut pecundang
Ketika menang yang ku ingin
Bertanding adalah hal yang tak boleh mustahil
Biar saja semua menghendaki pergi
Akan ku raih kembali dengan genggam pesona
Karena ku yakin mampu
Dan Allah berkuasa atas segala sesuatu
Wahai jiwa yang tak lagi menjiwai
Tak perlu lagi kau cemas dan gelisah
yakinlah

Allah sedang menyiapkan hal yang teramat indah


FB      : Syukrillah El Harits
IG      : @syukrillah_el_harits
Email : syukrillah.chunk146@gmail.com

Senin, 27 Mei 2019

*TAFSIR REMAJA*
- Al Faqir -

Siapa yang tak kenal cinta ?
Ia sudah ada sejak Nabi Adam diciptakan. Naluri cinta, Allah ciptakan pada tiap - tiap diri manusia. Namun, "Kids zaman now"  (yang pernah saya ajak berbincang tentang "Cinta") ketika diajak membahas benda kasat mata yang bernama cinta, secara cepat beranggapan "pasti akan membicarakan hubungan antara makhluk berlawanan jenis".
Menafsirkan rasa cinta terlalu kecil ruang lingkupnya, hanya sebatas perasaan cinta pada lawan jenis saja, sehingga kata cinta mulai tabu bila diungkapkan pada selain itu.
Padahal maknanya begitu luas dan objeknya-pun bermacam-macam.
Cinta kepada sang maha cinta (Allah Swt), Pada kekasihnya (Rasulullah SAW), orang tua, guru,  sesama muslim, cinta negeri, lingkungan sekitar dan lainnya. Pada itu semua harus kita tumbuhkan rasa cinta. Selain itu, adapula penyakit yang berbahan dasar cinta, yakni hubbuddunya (cinta dunia). Maka dari itu, jangan terlalu kerdil dalam memaknai CINTA.

Semoga Allah SWT mencintai kita. Aamiin

(Harits Syukrillah, 27 Mei 2019)

Senin, 29 April 2019

Kumpulan sajak dan puisi menyentuh kalbu


Emosi adalah perasaan intens yang bisa berkembang dan surut, yang sewaktu - waktu bisa saja meluap. Bukan hanya marah. Senang, sedih, tangis dan tawa, bahkan perasaan cinta dan sayangpun bagian dari emosi. Setiap orang berbeda -  beda cara dalam menyampaikan/meluapkan emosi. Ada yang menyampaikan lewat ucapan, perilaku ataupun tulisan. Diantaranya berbentuk sajak dan puisi.
Berikut ini adalah kumpulan sajak dan puisi yang saya karang sendiri berdasarkan perasaan (emosi) yang saya rasakan pada saat mengarangnya.
Semoga karangan yang saya buat dengan penuh kekurangan bisa bermanfaat bagi teman – teman pembaca. Terimakasih.
Kritik dan saran sangat saya harapkan untuk perbaikan karya selanjutnya .




            DAFTAR ISI

1. AKU
2. BANGKIT DAN PERCAYA
3. IBU
4. SAJAK KERINDUAN
5. RAMADHAN KAREEM
6. MY BEAUTIFUL


1.      AKU



Andai kata aku pelangi, 

tentu aku mampu hadir untuk memberikan susunan warna yang menjadi indah. 

Andai kata aku gugusan rasi bintang,  

niscaya aku akan membuatmu takjub dengan beragam bentuk yang aku perlihatkan. 

Andai kata aku setangkai mawar,

tak mustahil aku bisa menemani dengan keharuman 


Tapi bukan ...

Itu bukan aku

Kata dan perilaku ku tak seindah pelangi, 

Aku tak sebegitu menakjubkan bak rasi bintang, 

Dan Pribadi ku tak seharum bunga mawar.


Aku hanyalah mega 

Yang hadir disaat langit tak begitu diperhatikan 

Aku hanyalah Pluto 

Yang tak begitu berarti dalam tata surya 

Aku hanya setangkai kaktus tak rimbun Ditengah padang pasir yang gersang 


Tapi ...

Ku ingin tetap hadir dan berdiri 

Hingga bulan meniadakan 

Hingga pagi mengusir 

Hingga subur  mengubah



     2. BANGKIT DAN PERCAYA

Sukmaku tak lagi merindui pagi
Karena binarnya tak lagi menumbuhkan imaji
Akalku tak lagi pandai menitah raga
Khayalku lebur bagai mesiu dilangit Gaza

Terlempar ...
Terhempas ...
Tercampakkan ...

Wahai hati
Apakah kau lelah dengan semua jerih payah ?
Sudahkah kau bosan dengan semua cercaan ?
Atau ...
Kau tak lagi selera menyirnakan lara ?

Wahai hati
Yang ku tahu kau tak serapuh ini
Bangunlah !
Lalu bangkit dan percaya


3. IBU

Ibu ...
Semakin banyak lipatan pada dahimu yang terlihat
Pandanganmu tak lagi tajam dengasn kelopak mata yang semakin kendur
Setiap ku tanya bagaimana keadaanmu ?
Sambil memancarkan senyum kau selalu menjawab
“Aku baik – baik saja, seperti yang kau lihat”

Bu ...
Sering aku dengar tangismu teriring do’a yang kau panjatkan
Aku yakin
Kau pasti merasakan getirnya perjalanan
Tapi kau tetap berusaha terlihat tegar
saat anak – anakmu mulai merasa lelah

ibu ...
aku tahu, banyak beban yang kau derita
tapi engkau sangatlah pandai menyembunyikan pilu
sementara tubuhmu semakin melemah
dan usiamu kian bertambah

Bu ...
Jangan kau tinggalkan aku disaat aku masih rentan seperti ini bu
Ibu
Maafkanlah
Belum sempat aku menghadirkan senyum bahagia pada bibir manismu
Belum bisa aku menciptakan cahaya untuk dirimu bu
Robbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shogiro



       4.  SAJAK KERINDUAN

Bagai terbangnya burung disore hari
Pasti ia mengerti bahwa sudah saatnya ia kembali
Begitupun kamu
Semoga kau cepat memahami tentang itu

Maaf ...
Jika telah ku curi bayang wajahmu
Untuk ku simpan selalu dalam angan
Walau nyatanya ...
Tak sekalipun itu membuatku nyaman

Otakku bekerja keras menata banyak perkiraan
Karena merindumu ...
Adalah kenyataan yang tak menyenangkan

Di lain hal
Rindu ini menyadarkanku tentang peliknya nurani
Yang tak mungkin menyatu melainkan atas restu sang pemilik hati
Untukmu ... yang ku rindu



      5.  RAMADHAN KAREEM

Sungguh begitu cepat waktu terasa
Hingga tak sadar diri ini begitu terlena
Entah ...
Sampai kapan ruh ini bersatu dengan raga

Wahai tuhan pemilik lalu dan nanti
Sampaikanlah hamba pada makhlukmu yang suci
Yang belum pasti hamba dapat bertemu nanti

Pintu ampunan engkau bukakan
Rahmat begitu luas engkau bentangkan
Bahagia kau tabur pada hati yang beriman

Wahai Ramadhan
Relalah kau memberiku kesempatan
Menjadi tamu yang mesra dalam dekapan
Yang mampu memberiku dua kebahagiaan

Yaa syahru shiyam
Yang hadirnya membawa tenang sekalian alam
Moga diri ini mampu menjagamu tatkala siang dan malam
Allahumma balighna ramadhan



      6. MY BEAUTIFUL

Temuku denganmu
Tak serupa temunya Ali dan Fatimah
Tak sebanding hikayat Anthony dan Cleopatra
Tiada pernah kudengar merdu guntur kecuali kini
Kelamku gugur berganti indah mengisi hati

Wahai gemuruh malam
Temani diriku
Yang lelah terselubungi rindu
Temui kekasihku
Katakan bahwa cintaku tak kuasa menunggu

Senjaku begitu bercahaya
Bulanku menjadi purnama
Meski hujanku tak kunjung reda
Kau datang menawarkan suka

Ada kata yang ingin ku ucapkan
Ada rasa yang ingin ku sampaikan
Tapi lisan ini begitu kelu mengutarakan

Aku ingin mencintaimu dengan kejujuran
Seperti air
Yang tak sanggup berpadu dengan minyak
Layaknya mawar
Yang enggan menyembunyikan duri


Harits Syukrillah
IG          : @syukrillah_el_harits
FB         : Syukrillah el Harits
E-mail   : syukrillah.chunk146@gmail.com



Jumat, 01 Februari 2019

CERPEN kisah nyata





اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
                 Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah Swt, dan terimakasih teman-teman atas izin pemakaian nama tokoh didalamnya, sehingga CERPEN ini bisa mengikuti Event Nasional. CERPEN ini disadur 70% dari kisah nyata (ada sebagian perubahan) dan ber-genre hampir sama dengan postingan CERPEN saya sebelumnya pada blog ini. Selamat membaca.






                                                          KERAJAAN HATI

Sraaaaaak........ Sekepal batu meluncur menembus dedaunan dikebun belakang asrama. Fahmi masih termenung, matanya tajam menembus cahaya fajar, ototnya tegang, tubuhnya menunjukkan urat – urat yang menyeruak keluar, terlihat bahwa Fahmi menahan segudang peluru kebencian yang siap dilesatkan sewaktu – waktu.

Rupanya Fahmi belum bisa menerima kenyataan yang menimpanya malam tadi. Ia tertangkap tangan oleh ustadz Irfan (salah satu pembimbing pondok pesantren) sedang melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib. Ia keluar tanpa izin (kabur) dari asrama, entah mau kemana ia pergi. Baru beberapa langkah kaki hendak menuju, “Ila ayna anta (mau kemana kamu- Arab) ?”. Tanya ustadz Irfan menghentikan langkah Fahmi. “Ee... ee.. “   belum sempat Fahmi mengucap satu kata yang utuh, ustadz Irfan langsung menarik dan mengajaknya kesalah satu ruangan. Ruangan kecil yang luasnya 3 x 3 meter yang biasa digunakan untuk menyidang santri yang kedapatan melanggar tata tertib pondok pesantren.

Setelah beberapa menit di interogasi, Fahmi harus menerima konsekuensi dari perbuatannya. Ia harus mengakui perbuatannya dan mengucap janji didepan semua santri/siswa pada hari ini, sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Teeeeeeettt....... suara bel tanda upacara segera dimulai. Dengan rasa kesal yang masih melekat, Fahmi bergegas kelapangan, dilihatnya beberapa guru dan ustadz pembimbing (termasuk ustadz Irfan) sudah berbaris rapi dipinggir lapangan.
Upacara dimulai.
“kepada ananda Fahmi dipersilahkan maju kedepan”. suara dari microphone terdengar jelas oleh seluruh peserta upacara. Kesal, malu dan menyesal beradu dalam batinnya, getaran hebat disertai tetesan peluh menyerang tubuh Fahmi.

“saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Bilamana saya didapati mengulanginya, saya siap diberi sangsi yang lebih berat, bahkan saya siap untuk dikeluarkan dari sekolah dan pondok pesantren ini”. Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Fahmi. Dengan menahan kesal dan malu, Fahmi mempercepat langkahnya kekelas, sekelilingnya memperhatikan dengan pandangan sinis.

Pelajaran pertama dimulai. Fahmi tidak lagi memperhatikan materi yang sedang dijelaskan oleh pak Kahfi, batinnya berkecamuk bagai perang dunia. Bagaimana saya membalas dendam kepada ustadz Irfan ? bagaimana ? kapan dan dimana ?, tidak henti - hentinya Fahmi membatin. Rupanya ia sangat tidak terima dengan konsekuensi yang diberikan padanya, Fahmi terus memikirkan strategi yang paling  jitu untuk membalas perbuatan ustadz Irfan yang dianggap sangat mempermalukan dirinya itu.
                                                                                                                     
Hingga tiba waktunya istirahat, Fahmi enggan mengangkat kakinya keluar kelas, ia masih malu bertemu dengan orang - orang disekelilingnya, bahkan Ikbal yang merupakan teman dekatnya tidak nampak sejak tadi pagi. Sepertinya Ikbal turut merasakan malu dengan kejadian pagi tadi, kali ini Ikbal tidak bisa menjadi tameng untuk Fahmi, karena Fahmi terbukti bersalah.

Pukul 21.30 WIB
Dengan perlahan dan hati – hati Fahmi melangkahkan kakinya kearah kamar ustadz Irfan, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana membalas dendamnya kepada ustadz Irfan.
 “Ahaaa...” , Fahmi mendapat ide, bagai menemukan cahaya dalam kegelapan. “Sorban kesayangan ustadz Irfan. Ya, jika ku ambil lalu kubuang atau aku bakar, pasti dia akan merasa sangat sedih dan kesal karena barang kesayangannya hilang, dia juga akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga sorban hadiah dari orang tuanya dikala dia masih duduk dibangku SMA dulu. Walaupun dia tidak merasakan malu seperti yang aku rasakan sampai kini”.

Fahmi mempercepat langkahnya.
Sesaatnya sampai didepan kamar, ia memperhatikan sekeliling, setelah dirasa aman ia masuk dengan dorongan kebencian. Matanya menyisir seluruh sudut ruangan, tapi belum menemukan sorban yang ia cari.
Prakk... Tak sengaja meja kecil yang biasa dipakai ustadz Irfan untuk belajar dan mengaji tersenggol kakinya, lantas saja buku – buku dan lembaran – lembaran yang tersusun diatasnya jatuh berserakan. Dengan gerakan cepat ia berusaha menyusunnya kembali, menyisakan satu lembaran yang terlempar agak jauh dari meja, Fahmi segera mengambilnya.

Fahmi terdiam. Tanpa sengaja ia membaca tulisan dalam lembaran tersebut hingga kalimat terakhir yang isinya membahas “Pemimpin yang Adil dan Amanah”. Tak terasa air matanya menetes, semakin lama semakin deras, ia menangis sejadinya, ia putar kembali ingatannya sejak malam senin kemarin, saat ia melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib pondok pesantren. Hatinya berbalik, kebenciannya berubah menjadi penyesalan. Ia baru menyadari bahwa perbuatannya memanglah suatu yang salah dan pantas mendapat konsekuensi itu, karena sejak pertama ia mendaftar untuk mengecap pendidikan dipondok pesantren itu, ia dan orang tuanya telah menyetujui peraturan dan konsekuensinya selama ia tercatat sebagai siswa/santri. Fahmi ingat betul saat ia dan orang tuanya menandatangani perjanjian tersebut diruang pendaftaran lantai dua. Ustadz Irfan amatlah tidak bersalah, beliau adalah pemimpin yang amanah, karena telah melakukan sesuatu yang memang menjadi tugasnya”. Hatinya membenarkan.

Tangis Fahmi semakin tak tertahan, terlebih ia sangatlah mengetahui bahwa para guru dan ustadz pembimbing di lembaga itu adalah para pengabdi, mereka merelakan dirinya berbakti untuk memberi dan mengamalkan ilmunya pada seluruh santri tanpa dibayar sepeserpun.
Fahmi berlari secepat kilat menyambar mencari ustadz Irfan. Dimasjid, ruang pembimbing, asrama putra, aula serta lapangan sudah ia datangi, namun tak menemukan ustadz Irfan.

Fahmi menyerah, ia memutuskan untuk kembali keasrama sebelum jam 10 malam.
Fahmi ! Terdengar suara paruh baya memanggil dengan nada rendah. Setelah menoleh ternyata ustadz Irfan ada dibelakangnya. Sekejap mata Fahmi meraih tubuh beliau dan memeluknya dengan sangat erat, sambil menangis terseguk – seguk Fahmi menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya. “Maafkan saya ustadz. Saya telah melakukan hal yang salah, saya berdosa. Saya mengharap ridhomu ustadz.”
Tangis penyesalan dan haru menyelimuti keduanya ditengah lapangan depan aula. “aku telah memaafkanmu, semoga Allah menjadikan air mata ini sebagai saksi iman kita kepadanya.”


TAMAT

E-MAIL          : syukrillah.chunk146@gmail.com
IG                    : @syukrillah_el_harits

Musuh Abadi Manusia

Musuh Abadi Manusia Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam AS melalui firmannya : “Sesungguhnya aku hen...