LAYU TAK HARUS MATI
(Harits Syukrillah)
**
“Itu semua mustahil, aku takkan mampu”. Gumam Rafiq.
Didepan teras rumah, Rafiq terlihat lelah. Ia
hanya diam dengan tatapan tak berarti, tangannya tak henti memutar – mutar pulpen
yang ia pegang, sesekali diselingi dengan ungkapan yang mencaci dirinya sendiri.
“Bak tumbuhan yang layu, ia hanya akan menunggu. Berharap Tukang kebun
datang tepat waktu dan segera menyiramnya dengan air yang memberi segar serta menanamnya pupuk agar terus Tumbuh dan berkembang. Dilain hal dia bermunajat
pada sang maha agung, agar segera diturunkan hujan yang akan menjadikannya
tegak kembali”
Begitulah kurang lebih yang menggambarkan
keadaan Rafiq saat ini. Namun hati Rafiq terlalu gelap untuk bermunajat pada sang maha agung, ia tenggelam dalam keputuus asaan.
Rafiq yang mulanya mati –
matian berusaha meraih mimpinya agar menjadi dokter terpaksa rela ia urungkan
ditengah jalan. Tiga bulan lalu pak Fadhil ayah Rafiq di PHK dari perusahaan
tempat beliau bekerja. Jabatan manager sudah tak ada lagi karena kasus suap
yang yang menjerat beliau. Semenjak itu pendidikan Rafiq tak lagi mulus, karena
banyak tunggakan yang tak lagi mampu untuk dilunasi oleh kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya Rafiq tak tahan dengan tekanan yang menyerang mentalnya. Ia
memilih berhenti kuliah dengan keterpaksaan.
**
Malam ini langit tampak
mendung. Dari ruang tengah terdengar jelas orang tua Rafiq sedang berdebat,
mereka terdengar tidak lagi harmonis. Perkelahian itu membuat Rafiq yang belum
pernah merasakan kesulitan hidup semakin penat, spontan ia melangkahkan kakinya
keluar dengan maksud mencari ketenangan bagi dirinya. Ia tak bisa lagi bermanja dengan orang tuanya. ”Dasar
orang tua tak becus, cita – citaku harus kandas karena perilakunya” ungkap
Rafiq dengan penuh kekecewaan.
**
Empat belas bulan sudah Rafiq
meninggalkan rumah dan orang tuanya tanpa kabar. Kini ia bekerja sebagai
pelayan disalah satu rumah makan. “Mas, nasinya ditambah ya mas”, Rafiq mulai
terbiasa dengan keadaan ini, ia harus bekerja keras. Jangankan untuk memenuhi
gaya hidup, dapat makan dan tempat tinggal saja dirasa sudah sangat beruntung.
Ia melupakan profesi dokter
yang dulu iya cita – citakan. Bila ia ingat dengan hal itu, maka rasa kecewa
berbalut kesal kepada orang tuanya akan kembali tumbuh. Sebab itulah sekali
– kali ia tak ingin mengingat hal itu. Hidup berkecukupan, dokter, bahkan orang
tua hanya dianggap sebagai masa lalu yang tak lagi penting untuk difikirkan. Ia
telah melupakannya, bahkan sama sekali menganggapnya seakan – akan tak pernah
ada. Sungguh apa yang terjadi pada pola fikir Rafiq sangatlah mengerikan.
**
“Ibu”. Suara pak Fadhil
memanggil bu Naila (istrinya) dengan nada rendah.
“ayah baru saja menerima
undangan dari kepolisian agar hadir dalam persidangan besok pagi sebagai saksi”
sambung pak Fadhil. Keduanya tersenyum menyiratkan prasangka baik.
Keesokan paginya beliau
bergegas ke kantor pengadilan untuk memenuhi panggilan. Setelah beberapa jam
berada didalam ruang persidangan, akhirnya pak Fadhil keluar dengan wajah
sumringah, beliau bebas dari tuntutan karena terbukti tak bersalah dalam kasus suap
yang dituduhkan kepadanya. Lantas saja beliau segera menelpon istrinya,
memberitahukan kabar bahagia ini dengan senyum lebar yang terpampang diwajahnya.
**
Assalamu’alaikum
Wa’alaikumussalam (sahut bu
Naila dari balik pintu dihiasi senyum anggun)
Keduanya segera masuk.
Diruang tengah mereka
berbincang dengan penuh kegembiraan bercampur haru atas keputusan sidang hari
ini yang membuktikan pak Fadhil tak bersalah.
“Ayah tak merasakan sesuatu
?” tanya bu Naila seketika merubah hangatnya suasana menjadi dingin dan kaku.
Keduanya terdiam beberapa detik tanpa satu katapun terucap dari mulut mereka.
“sudah tak ingatkah ayah pada
Rafiq?”
“Rafiq, dimanakah kau
sekarang. Disaat ayah ditimpa ujian kau memilih pergi dengan rasa kecewa dan
amarah, kau tak tahu betapa ayah dan ibumu berusaha keras agar kau menjadi
pribadi yang baik. Bukan, bukan sikap seperti itu yang ayah harapkan ada
padamu”. Ungkap pak Fadhil diselimuti rasa kecewa.
**
Treng… Tak sengaja piring
berisi nasi jatuh dari tangan Rafiq. Tiba – tiba hatinya merasa cemas,
fikirannya tak karuan. Terbayang masa kecilnya, dikala ia selalu dicium sosok
sang ibu setiap kali bangun dari tidurnya, kala nasihat ayahnya selalu
menghiasi meja makan tiap harinya.
“Apapun yang terjadi, abang
(panggilan pak fadhil kepada Rafiq kecil) harus menjadi lelaki yang kuat , bila
ayah sudah tak mampu lagi berdiri untuk mendampingi ibu, abang harus siap
menjaga ibu. Okeh ?”
“siap ayah” (selalu itu yang
menjadi jawaban Rafiq kecil saat menerima nasihat dari ayahnya, sambil bergaya
laksana superhero yang sering ia tontonnya lewat DVD yang tiap satu minggu
sekali dibelikan oleh ayahnya).
**
Rafiq terburu meninggalkan
rumah makan tempat ia bekerja. Bergegas ia mendatangi rumahnya dahulu, tapi
sudah bukan orang tuanya yang tinggal dirumah itu. Rafiq terus berusaha mencari
dimana orangtuanya kini berteduh.
**
Ayah Rafiq bergegas kekamar
mandi untuk mencuci tangannya.
“ibu” tiba – tiba terdengar
suara pak Fadhil merintih.
Terlihat beliau tejatuh
dikamar mandi dan tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya berdiri. Spontan saja bu
Naila membawanya kerumah sakit. Ternyata tekanan darahnya sangat tinggi dan tak
bisa lagi tertolong. Seketika itu air mata mengalir dikedua pipi bu Naila, bak
air bah yang menghantam pemukiman. Hati bu Naila hancur, sejenak jantungnya
berhenti berdetak, sungguh hal ini tak pernah terbayang sedikitpun sebelumnya.
**
“Ibu”. Terdengar suara
meanggil dari belakang.
Bu Naila menoleh dan sejenak
terdiam sambil berusaha mengingat wajah yang nampak didepannya.
“Ini Rafiq bu” sambil gemetar
bibir Rafiq yang sudah dikelilingi kumis menjelaskan.
Mereka saling memeluk erat.
Sambil tersedu, Bu Naila menceritakan apa yang telah dan sedang terjadi pada
Rafiq .
Rafiq lemas mendengarnya,
bergetar tubuhnya, air matanya deras mengalir. Ingatannya kembali memutar momen
- momen kala ia masih bersama ayahnya.
“Apapun yang terjadi, abang (panggilan pak fadhil kepada Rafiq kecil)
harus menjadi lelaki yang kuat , bila ayah sudah tak mampu lagi berdiri untuk
mendampingi ibu, abang harus siap menjaga ibu. Okeh ?”
Kalimat Itulah yang masih sangat kental dalam ingatannya.
Rafiq mnjerit sekuatnya,
tubuhnya lemas tersungkur kelantai, ia menyesali perbuatannya. Tapi apalah
arti, penyesalan tak mampu membuat ayahnya kembali membuka mata.
**
Kini tinggallah sesal dalam
batin Rafiq. Namun mulai saat itu ia bertekad tak akan pernah meninggalkan
ibunya serta terus menjaganya seperti apa yang diharapkan ayahnya kala ia kecil
dulu.
***
