Rabu, 05 Desember 2018

cerpen keren


LAYU TAK HARUS MATI
(Harits Syukrillah)


**
“Itu semua mustahil, aku takkan mampu”.  Gumam Rafiq.
Didepan teras rumah, Rafiq terlihat lelah. Ia hanya diam dengan tatapan tak berarti, tangannya tak henti memutar – mutar pulpen yang ia pegang, sesekali diselingi dengan ungkapan yang mencaci dirinya sendiri.

“Bak tumbuhan yang layu, ia hanya akan menunggu. Berharap Tukang kebun datang tepat waktu dan segera menyiramnya dengan air yang memberi segar serta menanamnya pupuk agar terus Tumbuh dan berkembang. Dilain hal dia bermunajat pada sang maha agung, agar segera diturunkan hujan yang akan menjadikannya tegak kembali”

 Begitulah kurang lebih yang menggambarkan keadaan Rafiq saat ini. Namun hati Rafiq terlalu gelap untuk bermunajat pada sang maha agung, ia tenggelam dalam keputuus asaan.

Rafiq yang mulanya mati – matian berusaha meraih mimpinya agar menjadi dokter terpaksa rela ia urungkan ditengah jalan. Tiga bulan lalu pak Fadhil ayah Rafiq di PHK dari perusahaan tempat beliau bekerja. Jabatan manager sudah tak ada lagi karena kasus suap yang yang menjerat beliau. Semenjak itu pendidikan Rafiq tak lagi mulus, karena banyak tunggakan yang tak lagi mampu untuk dilunasi oleh kedua orang tuanya. Hingga akhirnya Rafiq tak tahan dengan tekanan yang menyerang mentalnya. Ia memilih berhenti kuliah dengan keterpaksaan.
**
Malam ini langit tampak mendung. Dari ruang tengah terdengar jelas orang tua Rafiq sedang berdebat, mereka terdengar tidak lagi harmonis. Perkelahian itu membuat Rafiq yang belum pernah merasakan kesulitan hidup semakin penat, spontan ia melangkahkan kakinya keluar dengan maksud mencari ketenangan bagi dirinya. Ia tak bisa lagi bermanja dengan orang tuanya. ”Dasar orang tua tak becus, cita – citaku harus kandas karena perilakunya” ungkap Rafiq dengan penuh kekecewaan.
**
Empat belas bulan sudah Rafiq meninggalkan rumah dan orang tuanya tanpa kabar. Kini ia bekerja sebagai pelayan disalah satu rumah makan. “Mas, nasinya ditambah ya mas”, Rafiq mulai terbiasa dengan keadaan ini, ia harus bekerja keras. Jangankan untuk memenuhi gaya hidup, dapat makan dan tempat tinggal saja dirasa sudah sangat beruntung.
Ia melupakan profesi dokter yang dulu iya cita – citakan. Bila ia ingat dengan hal itu, maka rasa kecewa berbalut kesal kepada orang tuanya akan kembali tumbuh. Sebab itulah sekali – kali ia tak ingin mengingat hal itu. Hidup berkecukupan, dokter, bahkan orang tua hanya dianggap sebagai masa lalu yang tak lagi penting untuk difikirkan. Ia telah melupakannya, bahkan sama sekali menganggapnya seakan – akan tak pernah ada. Sungguh apa yang terjadi pada pola fikir Rafiq sangatlah mengerikan.

**
“Ibu”. Suara pak Fadhil memanggil bu Naila (istrinya) dengan nada rendah.
“ayah baru saja menerima undangan dari kepolisian agar hadir dalam persidangan besok pagi sebagai saksi” sambung pak Fadhil. Keduanya tersenyum menyiratkan prasangka baik.
Keesokan paginya beliau bergegas ke kantor pengadilan untuk memenuhi panggilan. Setelah beberapa jam berada didalam ruang persidangan, akhirnya pak Fadhil keluar dengan wajah sumringah, beliau bebas dari tuntutan karena terbukti tak bersalah dalam kasus suap yang dituduhkan kepadanya. Lantas saja beliau segera menelpon istrinya, memberitahukan kabar bahagia ini dengan senyum lebar yang terpampang diwajahnya.

**
Assalamu’alaikum
Wa’alaikumussalam (sahut bu Naila dari balik pintu dihiasi senyum anggun)
Keduanya segera masuk.
Diruang tengah mereka berbincang dengan penuh kegembiraan bercampur haru atas keputusan sidang hari ini yang membuktikan pak Fadhil tak bersalah.
“Ayah tak merasakan sesuatu ?” tanya bu Naila seketika merubah hangatnya suasana menjadi dingin dan kaku. Keduanya terdiam beberapa detik tanpa satu katapun terucap dari mulut mereka.
“sudah tak ingatkah ayah pada Rafiq?”
“Rafiq, dimanakah kau sekarang. Disaat ayah ditimpa ujian kau memilih pergi dengan rasa kecewa dan amarah, kau tak tahu betapa ayah dan ibumu berusaha keras agar kau menjadi pribadi yang baik. Bukan, bukan sikap seperti itu yang ayah harapkan ada padamu”. Ungkap pak Fadhil diselimuti rasa kecewa.

**
Treng… Tak sengaja piring berisi nasi jatuh dari tangan Rafiq. Tiba – tiba hatinya merasa cemas, fikirannya tak karuan. Terbayang masa kecilnya, dikala ia selalu dicium sosok sang ibu setiap kali bangun dari tidurnya, kala nasihat ayahnya selalu menghiasi meja makan tiap harinya.
“Apapun yang terjadi, abang (panggilan pak fadhil kepada Rafiq kecil) harus menjadi lelaki yang kuat , bila ayah sudah tak mampu lagi berdiri untuk mendampingi ibu, abang harus siap menjaga ibu. Okeh ?”
“siap ayah” (selalu itu yang menjadi jawaban Rafiq kecil saat menerima nasihat dari ayahnya, sambil bergaya laksana superhero yang sering ia tontonnya lewat DVD yang tiap satu minggu sekali dibelikan oleh ayahnya).

**
Rafiq terburu meninggalkan rumah makan tempat ia bekerja. Bergegas ia mendatangi rumahnya dahulu, tapi sudah bukan orang tuanya yang tinggal dirumah itu. Rafiq terus berusaha mencari dimana orangtuanya kini berteduh.


**
Ayah Rafiq bergegas kekamar mandi untuk mencuci tangannya.
“ibu” tiba – tiba terdengar suara pak Fadhil merintih.
Terlihat beliau tejatuh dikamar mandi dan tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya berdiri. Spontan saja bu Naila membawanya kerumah sakit. Ternyata tekanan darahnya sangat tinggi dan tak bisa lagi tertolong. Seketika itu air mata mengalir dikedua pipi bu Naila, bak air bah yang menghantam pemukiman. Hati bu Naila hancur, sejenak jantungnya berhenti berdetak, sungguh hal ini tak pernah terbayang sedikitpun sebelumnya.

**
“Ibu”. Terdengar suara meanggil dari belakang.
Bu Naila menoleh dan sejenak terdiam sambil berusaha mengingat wajah yang nampak didepannya.
“Ini Rafiq bu” sambil gemetar bibir Rafiq yang sudah dikelilingi kumis menjelaskan.
Mereka saling memeluk erat. Sambil tersedu, Bu Naila menceritakan apa yang telah dan sedang terjadi pada Rafiq .

Rafiq lemas mendengarnya, bergetar tubuhnya, air matanya deras mengalir. Ingatannya kembali memutar momen - momen kala ia masih bersama ayahnya.

“Apapun yang terjadi, abang (panggilan pak fadhil kepada Rafiq kecil) harus menjadi lelaki yang kuat , bila ayah sudah tak mampu lagi berdiri untuk mendampingi ibu, abang harus siap menjaga ibu. Okeh ?”
Kalimat Itulah yang masih sangat kental dalam ingatannya.

Rafiq mnjerit sekuatnya, tubuhnya lemas tersungkur kelantai, ia menyesali perbuatannya. Tapi apalah arti, penyesalan tak mampu membuat ayahnya kembali membuka mata.
**
Kini tinggallah sesal dalam batin Rafiq. Namun mulai saat itu ia bertekad tak akan pernah meninggalkan ibunya serta terus menjaganya seperti apa yang diharapkan ayahnya kala ia kecil dulu.



***






Musuh Abadi Manusia

Musuh Abadi Manusia Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam AS melalui firmannya : “Sesungguhnya aku hen...