Senin, 12 November 2018

Sebaik - baik manusia

Assalamu'alaikum. Wr. Wb.

Ketika kecil dulu, kau sangat diperhatikan. Disiram, diberi pupuk, bahkan setiap rumput liar yang datang menghampiri, tanpa menunggu lama akan disingkirkan olehnya. Karena kau masih sangat rentan.
Kini saat kau tumbuh besar, kau haruslah memberi manfaat. Batangmu mesti besar dan kuat, daunmu tak boleh layu, dan buahmu haruslah manis. Tanpa lagi kau diperhatikan, betapa tangkaimu keras diterpa angin, akarmu mulai lelah menopang dahan yang semakin berisi. Tapi yakinmu mengalahkan segala keluh kesah dan ratapanmu.
(Harits Syukrillah)

Begitulah perumpamaan manusia, "bagai pohon mangga dipekarangan rumah" . Manusia hidup di dunia melewati beberapa fase. Bayi – Balita – Anak-anak – Remaja – Dewasa – Lansia. Manusia harus memberi feedback ( Timbal balik) . Dari mulai menerima hingga memberi, dari meniru hingga jadi panutan. Semuanya memiliki waktu, semakin tua umur kita, maka semakin banyak pula waktu yang harus di pertanggungjawabkan di yaumul hisab kelak.

Rasulallallah SAW. Dimasa hidupnya pernah bersabda :

"Khoirunnas anfauhum linnas"   

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad)

Pejabat tinggi, orang kaya ataupun saudagar, bila mereka tidak memberikan banyak manfaat kepada manusia lain, maka mereka bukanlah sebaik – baik manusia. Walaupun menurut sudut pandang duniawi mereka terhormat. Sebaliknya, tukang ojek, karyawan pabrik, bahkan pemulung sekalipun bila memang mereka mampu banyak memberi manfaat, maka mereka termasuk sebaik – baik manusia. Semakin banyak menebar manfaat, semakin baik pula predikatnya.

Pembaca Rahimakumullah, memberi manfaat bukan hanya dengan harta. Bila sekarang hidup kita pas – pasan, bukan berarti kita tak mampu memberi manfaat kepada orang lain. Ingat ! Allah Swt memberikan banyak potensi pada diri manusia agar bisa menjadi “Khoirun Nas”. Pengetahuan, skill, serta tenaga yang kita miliki, semua bisa menumbuhkan benih – benih manfaat bagi banyak orang. Bahkan nasihat yang baik terhadap sesama itu akan sangat besar manfaatnya bagi orang lain yang sedang membutuhkan solusi pada masalah yang sedang dihadapinya.

Salah satu ciri dari orang yang yang dapat memberi manfaat adalah keberadaannya disenangi, bahkan sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh yang lainnya. Rasulallah SAW adalah Uswatun hasanah, beliau tak pernah bicara kecuali jujur dan beliau tak pernah berbuat kecuali benar.

Di kala beberapa suku atau kaum yang ada dimakkah berseteru perihal peletakan hajar aswad, Rasulullah SAW adalah orang yang berpengaruh dan memberi manfaat besar saat itu. Ketika semua suku mengklaim bahwa suku-nya lah yang paling berhak meletakkan hajar aswad keatas ka’bah, Rasulullah SAW memberi solusi terbaik. Kala itu Rasulullah menyarankan agar diambilnya sehelai kain. lalu diletakkanlah hajar aswad diatasnya, sehingga orang – orang dari masing – masing kaum/suku berkesempatan untuk mengangkat dan meletakkan hajar aswad secara bersamaan. Begitu indah apa yang dicontohkan oleh nabi kita Rasulullah SAW. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad .

Wallahu A’lam Bishawab

Semoga tulisan ini mampu memberi manfaat kepada para pembaca. Terlebih kepada penulis yang masih sangat faqir akan ilmu.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Sabtu, 10 November 2018

Ilmu dan Teknologi

PENGARUH TEKNOLOGI DALAM MENUNTUT ILMU

Harits Syukrillah  

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

   Era digital, Generasi milenial, Modernisasi. Begitulah beberapa ungkapan yang menggambarkan perkembangan teknologi pada masa sekarang. Masa dimana segala hal dapat direalisasikan dengan mudah. Dengan hanya memijat tombol atau menyentuh ikon pada alat – alat elektronik yang diciptakan dan terus dikembangkan oleh para ahli ataupun ilmuwan.
    Namun demikian, pada realita yang sering kita temui, sebagian  orang relatif tidak maksimal dalam pemanfaatannya, bahkan terkesan hanya menumbuhkan mudharat. Bermain game tanpa manajemen waktu yang baik, komunikasi SOSMED tanpa mempertimbangkan nilai manfaat dan kepentingannya. Bahkan ada yang mengonsumsi produk elektronik yang canggih dengan harga tinggi hanya sebatas memenuhi style saja. Semua itu adalah tindakan yang kurang bijak dalam menyikapi digitalisasi.
   Begitupun halnya dalam menuntut ilmu, sedikit-banyak telah terkena dampak dari perkembangan teknologi dari masa kemasa. Banyak orang mengalihkan guru-nya pada Search Engine atau mesin pencari (sebut saja Google), sehingga tidak sedikit orang “menghilangkan” guru.
   “Cari saja di Google”, “Googling saja lah” dan banyak lagi ungkapan yang pada akhirnya guru, ustadz, dosen dan kyai tidak lagi menjadi panutan Pada kehidupan nyata ini.
   Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib r.a. pernah mengutarakan bahwa salah satu dari enam syarat menuntut ilmu ialah  وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ  yang artinya “petunjuk atau bimbingan guru”. Terlebih belajar ilmu agama, haruslah sesuai dengan petunjuk guru. Belajar agama janganlah secara otodidak, karena akan menjadi bahaya jika salah memahami suatu teks bacaan.
   Dikarenakan begitu pentingnya petunjuk guru, maka kita haruslah menghormati dan memuliakan guru (محبة) . Hal ini semata-mata untuk mendapatkan ridha guru yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada Allah Swt.
   Namun bukan berarti bahwa mencari pengetahuan pada mesin pencari (Google) atau MEDSOS adalah hal terlarang. Boleh – boleh saja kita belajar dengan alat bantu. Tapi jangan lupakan guru, agar kita tidak tersesat dalam menuntut ilmu. Tanyakanlah pada guru apa yang kita kurang pahami, apalagi sama sekali tidak kita mengerti. Jangan Telan Mentah - mentah apa – apa yang kita dapat dari sumber yang mungkin saja tidak jelas. Karena manfaat atau tidaknya ilmu yang kita miliki, sangat bergantung pada ridho atau tidaknya seorang guru.

Wallahu A’lam Bishawab  

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

sajak muhasabah diri

                  AKU
    Oleh : Harits Syukrillah  

Andai kata aku pelangi,
tentu aku mampu hadir untuk memberikan susunan warna yang menjadi indah.
Andai kata aku gugusan rasi bintang,  
niscaya aku akan membuatmu takjub dengan beragam bentuk yang aku perlihatkan.
Andai kata aku setangkai mawar,
tak mustahil aku bisa menemani dengan keharuman
Tapi bukan……..
Itu bukan aku…
Kata dan perilaku ku tak seindah pelangi,
Aku tak sebegitu menakjubkan bak rasi bintang,
Dan Pribadi ku tak seharum bunga mawar.
Aku hanyalah mega
Yang hadir disaat langit tak begitu diperhatikan
Aku hanyalah Pluto
Yang tak begitu berarti dalam tata surya
Aku hanya setangkai kaktus tak rimbun Ditengah padang pasir yang gersang
Tapi…… Ku ingin tetap hadir dan berdiri
Hingga bulan meniadakan
Hingga pagi mengusir
Hingga subur  mengubah

Musuh Abadi Manusia

Musuh Abadi Manusia Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam AS melalui firmannya : “Sesungguhnya aku hen...